Jangkau Masyarakat Bawah, Beras SPHP Kini Tersedia dalam Kemasan 2 Kg
JAKARTA, TNN – Pemerintah resmi menggeser strategi intervensi pangan nasional dengan menghadirkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam kemasan lebih ekonomis, yakni 2 kilogram (kg). Langkah agresif ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah yang kian tertekan.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa kebijakan ini didasarkan pada realitas pasar. Banyak warga yang secara finansial hanya mampu membeli beras dalam jumlah kecil atau untuk kebutuhan harian.
“Kami melihat di lapangan masih banyak saudara-saudara kita yang cenderung berbelanja beras hanya 1 sampai 2 kilo saja,” ujar Ketut, Minggu (12/4/2026).
Selama ini, beras SPHP dari Perum Bulog hanya tersedia dalam kemasan minimal 5 kg. Dengan adanya kemasan 2 kg, pemerintah berharap masyarakat di kelompok desil bawah dapat lebih mudah mengakses beras berkualitas dengan harga terjangkau.
Ketut menegaskan, inovasi kemasan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto guna memperkuat kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Secara legal, aturan ini telah tertuang dalam Keputusan Kepala Bapanas Nomor 34 Tahun 2026 yang mengizinkan distribusi SPHP dalam dua varian: 5 kg dan 2 kg.
Terkait harga, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan signifikan. Untuk wilayah Zona 1, harga eceran tetap dipatok Rp12.500 per kg. Artinya, masyarakat bisa menebus kemasan baru ini dengan harga sekitar Rp25.000 saja.
Realisasi Penyaluran**
Program SPHP tahun 2026 telah digulirkan sejak awal Maret dengan target total penyaluran mencapai 828 ribu ton. Untuk menopang program ini, pemerintah mengucurkan anggaran subsidi sebesar Rp4,97 triliun. Hingga 7 April 2026, realisasi penyaluran di seluruh Indonesia tercatat sudah menyentuh angka 82,8 juta kg.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangan terpisah menyebutkan bahwa perubahan ukuran kemasan ini adalah bentuk respons cepat pemerintah terhadap dinamika kebutuhan publik.
Meskipun inflasi beras bulanan pada Maret 2026 sedikit meningkat ke angka 0,65% dari sebelumnya 0,43% di Februari, kondisi ini dinilai masih terkendali. Secara tahunan, inflasi beras tercatat sebesar 3,71%, jauh lebih stabil dibandingkan lonjakan ekstrem pada Maret 2024 yang sempat menyentuh 20,07%.
Red: (TNN)



Komentar
Posting Komentar